Beranda > Artikel > Cermin Rias Berkedok Spion: Fashion di Jalan, Vision ke Kuburan
Cermin Rias Berkedok Spion: Fashion di Jalan, Vision ke Kuburan
Admin - Potlote Zan
Senin, 18 Desember 2025. 13:39 WIB
Rizky selalu memastikan wajahnya terlihat tampan sebelum melaju menggunakan sepeda motor. Setiap berhenti di lampu merah, dia berkaca dengan bantuan spion yang diputar 100 persen ke wajahnya. “Biar tetap kece di jalan,” pikirnya. Sampai suatu sore, jalanan sedang padat. Rizky hendak pindah jalur ke kanan. Sudah menoleh sekilas, merasa aman, lalu memutar setang.
Tiba-tiba, TIIINN!
Sebuah motor melesat dari belakang, hanya beda beberapa sentimeter dari tubuhnya. Jantungnya hampir copot. Sekejap itu, ia sadar: spionnya cuma menampilkan wajah dirinya sendiri. Blind spot di samping tak terlihat sama sekali. Rizky menghela napas panjang. Semua itu hampir berakhir buruk hanya karena spion digunakan sebagai cermin rias.
Pertanyaan sederhana: Seberapa sering kita melihat hal yang sama di jalan? Dan seberapa berbahayanya kebiasaan ini?
Ini bukan cerita satu orang. Banyak pengendara yang merasa spion adalah cermin perjalanan, bukan alat keselamatan. Biasanya terlihat saat:
Berhenti di lampu merah, sibuk cek bulu mata atau poni rambut
Spion diputar terlalu “masuk,” sampai pandangannya hanya wajah dan bahu sendiri
Tidak peduli bahwa apa yang seharusnya terlihat adalah kendaraan lain yang bisa menabrak kapan saja
Masalah utama dari kebiasaan ini adalah pengendara tidak lagi bisa melihat posisi kendaraan di samping dan belakang, terutama di area blind spot. Akibatnya, ketika pindah jalur atau menyalip, mereka bergerak dalam kondisi buta.
Risikonya? Jangan Dikira Kecil
1. Kecelakaan saat pindah jalur
Tidak tahu ada motor lain sedang menyalip atau mobil yang mendekat. Pengendara merasa cukup hanya dengan menggunakan lampu sein. Padahal kombinasi antara sein dan melihat spion itu sangat penting.
2. Reaksi lambat terhadap ancaman dari belakang
Klakson keras baru terdengar ketika sudah terlambat. Tanpa seseorang melihat spion dengan benar, maka potensi keterkejutan menjadi semakin tinggi.
3. Melanggar ketentuan kelayakan kendaraan
Spion ada untuk keselamatan. Memutarnya sehingga tidak berfungsi itu sama dengan melanggar aturan. Penggunaan spion sendiri juga ada ketentuannya.
Keselamatan itu bukan hanya soal helm dan rem. Cara menyetel spion pun punya peran besar.
Beberapa dasar hukum yang menegaskan kewajiban penggunaan spion secara benar:
UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 106 Ayat (3)
"Pengemudi wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan."
PP No. 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan Pasal 35 Ayat (5) dan Pasal 40 Ayat (2)
"Spion harus dua buah dan dipasang pada posisi yang dapat berfungsi dengan baik tanpa mengganggu pandangan pengemudi."
Fungsinya jelas: memantau kondisi belakang, bukan memantulkan alis kita.
Panduan cepat dan simpel:
1. Pastikan seperempat bagian dalam spion menampilkan sedikit bahu pengendara.
2. Tiga perempat sisanya harus memperlihatkan jalan dan kendaraan di belakang/samping.
3. Atur agar horizon terlihat jelas.
4. Coba cek lagi setelah naik motor, jangan cuma saat parkir.
Kalau spionmu menampilkan wajah lebih banyak daripada jalan, berarti ada yang salah.
Mari Mulai Peduli. Keselamatan bukan soal gaya. Spion bukan kosmetik. Jalan raya bukan ruang ganti. Sudah waktunya kita sadar bahwa spion adalah mata ketiga di jalan. Gunakan sesuai fungsinya. Tetap gaya boleh, tapi jangan sampai nyawa jadi taruhan. Spion untuk melihat bahaya, bukan melihat wajah.