Beranda > Cerita > Surat Kuning, Kepala Pening. Cek Dulu, Daripada Malu
Surat Kuning, Kepala Pening
Cek Dulu, Daripada Malu
Admin - Potlote Zan
Selasa, 18 November 2025. 18:37 WIB
HRD mengambil satu berkas, melihatnya sebentar, lalu mengembalikannya padaku.
“Ini akta kelahiran saya kembalikan ya.”
Aku menatapnya, bingung. “Kenapa, Pak?”
“Mas, AK-1 itu Surat Kuning, bukan akta kelahiran.”
Kata-katanya jatuh tepat di ulu hati, dan rasa panas langsung naik ke wajahku. Entah kenapa otakku kemarin bekerja seperti Wi-Fi minim sinyal. Menebak-nebak singkatan secara acak pasti bukan kebiasaan yang patut dibanggakan. Tapi ya, tetap kulakukan. Sesi wawancara berjalan lanjut, tapi rasa malu itu menempel seperti lem murah: tidak kuat untuk hal penting, tapi sangat lengket untuk urusan memalukan.
Fyi, Surat kuning, atau yang juga dikenal sebagai Kartu Tanda Pencari Kerja (AK1), adalah dokumen yang dikeluarkan oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) untuk mendata dan membantu para pencari kerja. Kartu ini berisi data pribadi, pendidikan, dan keterampilan pencari kerja, serta menjadi salah satu persyaratan penting untuk melamar pekerjaan di instansi pemerintah maupun swasta. (dealls.com)
Keesokan harinya, harga diri memaksa aku untuk mencari tahu bagaimana cara mendapat AK-1 itu. Dalam beberapa ketikan, aku menemukan jawabannya: kartu pencari kerja yang bisa diurus di Dinas Tenaga Kerja. Oke, mudah. Kenapa aku tidak melakukan ini sebelum wawancara? Pertanyaan itu biar saja dibahas di sidang internal otak nanti.
Iseng aku membuka Instagram, dan di sana aku teringat telah follow akun Mall Pelayanan Publik (dulu nama akunnya DPMPTSP kalau tidak salah). Setelah kubuka, ternyata mereka menyediakan layanan AK-1 juga. Tanpa pikir panjang, aku langsung meluncur ke sana. Begitu sampai, aku mendapat pelayanan cepat, petugas ramah, dan prosesnya simpel. Tidak ada drama, tidak ada birokrasi yang bikin ingin meditasi panjang. Ternyata MPP bukan sekadar gedung. Ia semacam pusat peradaban kecil yang menyatukan berbagai layanan dinas dalam satu tempat.
Saat berjalan pulang, satu pikiran muncul: mungkin banyak warga Temanggung yang belum tahu apa itu MPP. Atau mungkin hanya aku yang belum tahu bahwa disini (MPP) itu terdapat berbagai pelayanan dari dinas-dinas seperti Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kesehatan, Samsat, Kemenag, BPS, dan sebagainya.
Akhirnya hari itu aku bersyukur. Dari momen memalukan dengan HRD, sampai kunjungan ke MPP, semuanya mengajarkanku hal sederhana: cari dulu sebelum sok tahu. Tenang saja, ini bukan cerita pesanan pemerintah. Tidak ada amplop cokelat di balik kisah ini, paling hanya rasa malu yang kubawa pulang dari kejadian tempo hari.