Beranda > Artikel > Hati-hati! 5 Kata Ini Bisa Mencuri Suaramu Tanpa Kamu Sadar
Hati-hati! 5 Kata Ini Bisa Mencuri Suaramu Tanpa Kamu Sadar
Admin - Potlote Zan
Sabtu, 30 Oktober 2026. 00:05 WIB
Dukung kami
Ilustrasi: pola framing yang memaksa pemilih memilih dengan rasa takut.
Foto : Peggy_Marco/pixabay
"Pilih agama, atau pilih seni?"
Lima kata. Tidak ada yang kasar, tidak ada yang mengancam. Kalau diucapkan sambil menyeruput kopi di warung, ia terdengar seperti obrolan biasa. Tetapi menjelang hari pemilihan, kalimat sependek itu bisa bekerja lebih efektif daripada baliho berukuran raksasa.
Mengapa? Karena ia tidak meminta kita berpikir. Ia meminta kita takut.
Coba perhatikan susunannya. Kalimat itu menyodorkan dua pilihan, lalu diam-diam menyelipkan vonis: siapa pun yang memilih "seni" berarti meninggalkan agama, dan siapa pun yang memilih "agama" berarti memusuhi seni. Padahal tidak pernah ada pertentangan semacam itu di kehidupan sehari-hari kita.
Orang yang rajin beribadah boleh menyukai musik, tari, dan tradisi. Orang yang berkesenian boleh khusyuk di rumah ibadah. Selawat yang kita dengar di surau diiringi rebana. Lantunan azan yang menggetarkan hati pun memiliki seninya sendiri. Dari kampung ke kampung, agama dan seni selama berabad-abad berjalan bergandengan tangan.
Lalu mengapa menjelang pemilihan keduanya mendadak dibuat saling berhadapan? Jawabannya sederhana: karena dengan cara itu, pemilih tidak perlu diyakinkan dengan gagasan. Cukup dibuat gelisah.
Dalam ilmu politik, ini dikenal sebagai politik identitas yang dipakai sebagai senjata. Alurnya hampir selalu sama.
Sederhanakan persoalan menjadi dua kubu yang saling bertentangan.
Lekatkan identitas suci pada salah satu pihak.
Jadikan pilihan lain sebagai bentuk pengkhianatan.
Hasilnya, pemilih tidak lagi menimbang program, kejujuran, atau kemampuan calon. Pemilih sibuk menjaga diri agar tidak dicap salah.
Bayangkan seorang ibu yang berdiri di depan bilik suara. Ia sebenarnya ingin memilih calon yang paling bisa memperbaiki jalan kampungnya. Tetapi suara di kepalanya berbisik: "Nanti dikira tidak membela agama." Pada detik itu, bilik suara tak lagi sebebas namanya.
Padahal asas pemilihan yang kita sepakati bersama menyebut dengan jelas: langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Kata bebas di sana bukan hiasan. Ia berarti pemilih berhak memilih tanpa tekanan, termasuk tekanan yang datang secara halus, lewat satu kalimat yang terdengar santai.
Mudah sekali mengira kerugiannya hanya menimpa calon yang diserang. Kenyataannya, ada tiga pihak yang ikut dirugikan.
Pertama, pemilih. Akal sehatnya dikunci, dan haknya untuk memilih berdasarkan pertimbangan sendiri digantikan oleh rasa takut.
Kedua, agama itu sendiri. Ketika keyakinan dijadikan alat menang-menangan, yang tercoreng adalah kesuciannya. Agama terlalu luhur untuk dijadikan senjata kampanye.
Ketiga, kerukunan kampung. Tetangga yang tadinya saling menyapa bisa mendadak saling curiga. Luka seperti ini tidak selesai bersamaan dengan penghitungan suara. Ia bisa terbawa bertahun-tahun, sampai ke arisan, pengajian, bahkan hajatan keluarga.
Kita tidak perlu menjadi pakar hukum untuk menangkal jebakan ini. Cukup dengan kebiasaan kecil yang konsisten.
Balas label dengan pertanyaan. Setiap kali ada yang menjual identitas, tanyakan: "Programnya apa? Rekam jejaknya bagaimana?"
Jangan jadi kurir. Kalimat provokatif hanya hidup jika diteruskan. Berhenti di kita, jangan lanjut ke grup WhatsApp keluarga.
Laporkan lewat jalur resmi kepada panitia pemilihan dan pihak berwenang jika ada indikasi kampanye yang memakai SARA.
Rawat silaturahmi. Berbeda pilihan bukan alasan berhenti bertegur sapa.
Pemilihan sudah selesai, tetapi pelajarannya jangan ikut usai. Lain kali, ketika kalimat serupa kembali muncul dalam bentuk apa pun dan di kampung mana pun, kita sudah tahu apa yang sedang terjadi: bukan sedang diminta memilih, melainkan sedang digiring.
Pemimpin yang baik tidak lahir dari rasa takut warganya. Ia lahir dari pilihan yang bebas, jernih, dan dipertanggungjawabkan.
Jadi, lain kali ada yang bertanya, "Pilih agama, atau pilih seni?", jawab saja dengan tenang:
"Saya memilih berpikir."
"Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili sikap lembaga mana pun."