Pintu yang Dibiarkan Setengah Terbuka
Admin - Potlote Zan
Selasa, 20 Oktober 2026. 16:37 WIB
Dukung kami
Tentang menunggu kabar yang tak kunjung datang, dan cara pulang pada dirimu sendiri.
Potlote Zan — Pagi ini kamu membuka email lagi. Mungkin sudah yang keempat kalinya sebelum sarapan. Kotak masuk berisi promo diskon dan notifikasi lowongan, tapi tidak ada nama perusahaan itu. Kamu mengecek WhatsApp, siapa tahu pesan dari HRD terselip di bawah. Tidak ada.
Wawancaranya tiga minggu lalu. Kamu masih ingat senyum di akhir sesi dan kalimat yang diucapkan ringan, “Nanti kami kabari secepatnya ya.” Sejak itu, kata secepatnya terasa seperti janji yang tidak punya tanggal.
Orang sering bilang ghosting itu sepele, “toh cuma lamaran kerja.” Tapi yang menyakitkan bukan lamarannya. Yang menyakitkan adalah ketidakpastiannya. Penolakan, sepahit apa pun, adalah pintu yang ditutup. Kamu bisa berduka, lalu berbalik pergi. Sunyi adalah pintu yang dibiarkan setengah terbuka. Kamu terus berdiri di depannya dengan satu kaki siap melangkah, tidak berani pergi dan tidak bisa masuk. Tubuhmu ikut menunggu: dada yang menegang tiap ponsel bergetar, tidur yang tidak pernah benar-benar nyenyak.
Lalu pikiran mulai bekerja sendirian. Mungkin jawabanku tadi kurang bagus. Mungkin CV-ku terlalu biasa. Mungkin aku memang tidak cukup. Kekosongan selalu minta diisi, dan sayangnya kita paling cepat mengisinya dengan tuduhan pada diri sendiri. Padahal diam seseorang lebih sering bercerita tentang dirinya: prosesnya berantakan, kepalanya penuh, atau etikanya memang belum tumbuh. Itu bukan cermin untuk wajahmu.
Dan ada satu luka yang jarang dibicarakan, yaitu rasa tidak dianggap. Kamu menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Kamu menyetrika kemeja terbaik, menghafal profil perusahaan, menahan gugup di depan layar. Semua itu pantas dibalas dengan satu kalimat sopan, bahkan kalau isinya “maaf, belum rezekimu.” Ketika kalimat itu tidak datang, yang terasa bukan sekadar kecewa. Rasanya seperti dilupakan.
Maka izinkan aku menitipkan beberapa hal. Beri dirimu tenggat sendiri: kalau sampai hari Jumat tidak ada kabar, kamu anggap pintu itu sudah selesai, lalu kamu boleh berjalan lagi tanpa merasa mengkhianati harapan. Biarkan dirimu kesal dan sedih tanpa buru-buru dinasihati agar “bersyukur saja.” Dan ingat bahwa nilaimu sebagai manusia tidak pernah ditentukan oleh sebuah balasan, atau ketiadaannya.
Kamu tidak kurang. Kamu hanya sedang berdiri di depan pintu yang salah, terlalu lama. Pulanglah sebentar pada dirimu, minum yang hangat, lalu cari pintu lain, yang punya engsel jujur dan penghuni yang tahu caranya berpamitan.
Kalau tulisan ini terasa seperti teman yang menemanimu menunggu, traktir Potlot’e Zan segelas kopi di Trakteer supaya ruang ini tetap hangat untuk orang-orang seperti kita.